Tak sangka
aku mendapatkan juara 2, waktu itu aku masih duduk dikelas 2 naik kekelas 3. Hari
berganti hari, tahun pun telah berganti, aku tak boleh bersedih, aku harus
semngat mengejar cita-citaku. Raport akhir semesterpun dibagikan. Riuh sekali
hari itu. Semua orang tua murid datang, untuk mengambil rapor anaknya. Disitu
aku merasa sedih sekali. Karena untuk pertama kalinya tante ku yang menggambil
raportku. Bukan ibuku. Aku menangis lagi. Teman-temanku megusap air mataku dan
memeberikan support yang begituuu membngun. Aku semakin tegar dan tersenyum
simpul. Juara-juara diumumkan. Tepat dikelasku, aku memandangi sorot mata
gurukuAku tak menyangka bisa meraih gelar juara 2. Ternyata kerja kerasku tak
sia-sia. Itulah kado terindah yang ku persembahkan untuk ibuku disana. Ia pasti
tersenyum bangga melihat aku meraih gelar itu. Hari demi hari semangat itu
semakin kuat dibenakku. Semangat untuk meraih apa yang aku cita-citakan kelak.
Aku hanya ingin melihat kedua orang tuaku bangga, atas apa yang ku raih saat
ini dan nanti.
“liburan pun selesai. Aku mulai
masuk kesekolah dan bertemu dengan teman baru serta kelas baru. Kelas 3A yang
aku dapat. Anak-anak pintar yang berada di dalam kelas itu. Ternyata aku masuk
kekelas unggulan. Aku menggambill tempat duduk nomor 2 dari belakang, tiba-tiba
adaa yang mengagetkanku.” Haiii…. Ada orang gak ?? ,, dengan tersenyum aku
menjawab,,”Gak ada kok..duduk aja, ga apa-apa..orang itu langsung mengulurkan
tangannya,”kenalin, aku Dina..”yaa, aku ikaa..”ssenang berkenalan dengan kamu
din..
Terjadilah
perbincangan yang sangat panjang. Kami saling mngenal satu sama lain. Dan
disitulah kami sepakat untuk menjadi sahabat. Hanya angin dan hujan yang
menjadi saksi bisu akan persahabatan kami. Hari hari aku jalani dengan
keceriaan. Tanpa rasa sedih sedikitpun, karnaa larut dalam kesedihan juga gak
baik buat kesehatanku. Dengan hadirnya sahabat-sahabat aku, aku merasa kembali
kekehidupanku yang duluu. Merekalah orang yang selalu memperhaatikanku dan
menyayangiku.
“HOREEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE
, aku LULUUUUUUUUUUUUUUUUSSSS.. teriak siswa dan sisiwi SMP Miftahul Jannah
Surabaya. Sangat heboh sekali hari itu. Mereka berjalan melewati sawah dan
sungai berbondong-bondong. Berebeda dengan anak kota. Kami hanya berjalan kaki
saat itu. Tapi kami bahagiaa dengan kelulusan ini. SMP kami menjadi lulusan
yang terbaik dan terbanyak. Aku bahagia sekali melihat teman sekelasku berhasil
dengan nilai yang memuaskan. Liburan panjang telah aku lalui , waktunya mencari
SMA yang bener-bener baik dikota Surabaya ini. Aku dan dina berjalan kesana
kemari mencari SMA yang terbaik. Tapi apalah daya, biaya membuat aku gagal
untuk dapat duduk di SMA yang baik. Aku tak akan pernah bisa memaksa untuk
sekolah ditempat itu. Akhirnya aku masuk ke SMA N budi utomo. Walau tak sebagus
SMA N SURABAAYA yang aku impikan, tapi aku masih bangga bisa masuk ke SMA negri
bersama dina, sahabatku.
Perjalananku
dimulai dengan kesan yang baik di SMA. Aku masih menjadi yang tebaik dikelas,
dengan nilai-nilai yang memuaskan. Saat itu ada pria yang menyukaiku. Aku tak
pernah menggubrisnya. Tapi hari ke hari aku semakin risihi bila dia terus
mendekatiku. Surat yang ia kirim hanya kubaca sekilas dan kubuang. Karena haal
itu sangaat-sangat mengganggu konsentrasi belajarku. Mungkin saat itu aku
menjadi manusia sombong di kelas. Aku tak perduli apa yang mereka katakan.
Hanya saja aku masih ingat kata-kata mamaaku yang menantangku untuk bisa
mendapat ngelar juara. Aku selalu buktikan dengan prestasi yang aku raih. Baik
dibidang akademik maupun non akademik. Bisa aku lakukan dengan kerja keras yang
begitu besar.
Desemeber
akhir akan aku lalui. Perjalanan SMA , hanya bisa aku gambarkan lewaat sendu
nada-nada indah sang pemusik. Symphony yang menyaatu dalam detik waktu ttak
pernah angkuh dengan rasa pilu yang menggebu. Menggebu hasrat dijiwa yang
akhirnya berubah menjadi poin utama untuk menggapai cita. Cita-cita yang selalu
aku impikan. Memakai toga dikepala dengan gelarr sarjaana. Ya tuhan, ntah kapan
semua itu terwujud. Usaha demi usaha selalu aku buat agar aku tetap bissa
bersekolah. Karna selalu biaya yang menjaddi kendala semua itu. Kesederhanaan
yang dimiliki keluargaku dan orgtuaku yang semakin hari smakin renta membuat
aku sedikit ciutt untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Tak ada beasiwa yang
kudapat. Tak ada satu bantuanpun. Hanya haarapan kosong yang aku dapat dari
desaku. Padahal tak sedikit prestasi yang ku raih. Sungguh ironis.. ntah kapan
dunia ini akan beruah menjadi lebih baik. Lihat saja, masih banyak anak-anak
yang terlantar dan tak bersekolah. Dari 5000 mgkn hanya 3000 yang bersekolah.
Tapi yang 2000nya hanya meminta-minta, mengamen, dan menjadi loper Koran.
Sangat memprihatinkan.
Tak terasa
umurku sudah menginjak 18 tahun. Aku sudah menjadi wanita yang akan menginjak
masa-masa dewasa. Dimana masa yang semakin banyak maslah yang akan aku terima.
Masa dimana cobaan akan semakin besar menghampiriku. Aku melanjutkan pendidikan
ku di UNIVERSITAS SURABAYA. Aku mengambil jurusaan FKIP bahasa inggris. Walau
awalnya orang tuaku cuek atas keinginanku, tapi aku tetaap melawannya dan yakin
bisa menggapai gelar sarjana. Cita-citaku memang menjadi guru. Hanya waktu ibu
masih ada, ia menginginkanku menjadi bidan. Aku tak bisa, karna aku kurang ahli
dalam hal kesehatan. Mungkin tindakanku ini mengecewakannya. Tapi maafkan aku
ibu, aku hanya bisa sampai seperti ini. Menjadi seperti ini saja aku sangat
bersyukur sekali. Aku menangis seketika, mengingat akan semua cobaan yang aku
dera daari kecil hingga sekarang, tak sangka aku bisa menjadi seperti ini.
Semua yang aku lakukan bukan karna kerjaa keraasku saja. Tapi doa keluarga,
teman , dan sanak saudara yang sangat berarti buat aku.
Semakin
hari semakin baik saja prestasi yang aku dapat. Dari menyaanyi, mengaji dan
lain sebaginya. Aku termasuk orang yang aktif dalam berorganisasi. Sekarang aku
mengajar disalah satu TK swasta di Surabaya. Aku bahagia bisa membagi ilmuku kepada orang banyak. Terutama
anak-anak yang bbbelum mengerti apa-apa, menjadi mengerti, berkat aku dan
ibu-ibu yang lain. Aku juga merasa dihargai oleh mereka. Betapa bahagianya aku
bisa menjadi seperti ini. Betapa bangganya ibuku, melihat anak yang dulu
tomboy, menjadi feminim dengan balutan jilbab dikepalanya, sesuai dengan apa
yang diinginkannya selama ini. Aku merindukanmu ibu, sungguh aku merindukan
sosok mu. Ntah kapan aku bisa menyentuhmu, bahkan membelai rambutmu. Sedangkan
menciummu saja aku tak akan pernah bisa. Ya ALLAH , sesak dada aku bila rindu
padanya. Tak bisakah kau mengizinkan aku bertemu dengannya walau hanya dalam
mimpi ??? menciumnya, bahkan memeluknya hingga fajar tiba. Aku menginginkan itu
ya ALLAH. Ingin sekaliii.. tapi ntah kapan itu akan terwujud ???????????????
beribu tanda Tanya besarr yang muncul diotakku. Apa aku ini sudah gilaa ?
ayolahhh ,, bangkittt ? jangan hanya seperti ini. “ darii ujung kanan seperti
ada yang membisikku. Mengiang ditelinga ku. Aku menjawab dalam hati..” aku
ingin bangkit, tapi sosok ibuku tak pernah bisa aku lupakan. Terkadang aku juga
sedih, apabila teman-temanku diprhatikan oleh ibunya. Kalau belum pulang
kuliah, ditelfon sama ibunya..” lagi dimana kamu nak ??, dengan nada yang
mesra. Sedangkan aku????????????? Tak pernah merasakan itu. Aku hanya mengusap
air mataku ketika aku melihat dan mendengar itu. Begitu mereka mendapat perhatian
yang lebih, kasih sayang yg lebih. Terus akuuuu .. aku tak pernah sedikitpun
mendapatkan itu. APA ALLAH GAK ADIL SAMA AKU ??? terkadang aku berfikir buruk
sepertii itu. Berfikir bahwa aku manusia bodoh dan miskin didunia ini.. aku tak
membutuhkan kasih saying seorang bapak, maupun kakak, karna mereka tak mengerti
aku. Saat ini aku hanya butuh ibu, ibu, dan ibu. Karna satu pelukan darinya,
bagiku surga duniaaa






0 komentar:
Posting Komentar