Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Unforgetable moment season II



Tak sangka aku mendapatkan juara 2, waktu itu aku masih duduk dikelas 2 naik kekelas 3. Hari berganti hari, tahun pun telah berganti, aku tak boleh bersedih, aku harus semngat mengejar cita-citaku. Raport akhir semesterpun dibagikan. Riuh sekali hari itu. Semua orang tua murid datang, untuk mengambil rapor anaknya. Disitu aku merasa sedih sekali. Karena untuk pertama kalinya tante ku yang menggambil raportku. Bukan ibuku. Aku menangis lagi. Teman-temanku megusap air mataku dan memeberikan support yang begituuu membngun. Aku semakin tegar dan tersenyum simpul. Juara-juara diumumkan. Tepat dikelasku, aku memandangi sorot mata gurukuAku tak menyangka bisa meraih gelar juara 2. Ternyata kerja kerasku tak sia-sia. Itulah kado terindah yang ku persembahkan untuk ibuku disana. Ia pasti tersenyum bangga melihat aku meraih gelar itu. Hari demi hari semangat itu semakin kuat dibenakku. Semangat untuk meraih apa yang aku cita-citakan kelak. Aku hanya ingin melihat kedua orang tuaku bangga, atas apa yang ku raih saat ini dan nanti.
            “liburan pun selesai. Aku mulai masuk kesekolah dan bertemu dengan teman baru serta kelas baru. Kelas 3A yang aku dapat. Anak-anak pintar yang berada di dalam kelas itu. Ternyata aku masuk kekelas unggulan. Aku menggambill tempat duduk nomor 2 dari belakang, tiba-tiba adaa yang mengagetkanku.” Haiii…. Ada orang gak ?? ,, dengan tersenyum aku menjawab,,”Gak ada kok..duduk aja, ga apa-apa..orang itu langsung mengulurkan tangannya,”kenalin, aku Dina..”yaa, aku ikaa..”ssenang berkenalan dengan kamu din..
Terjadilah perbincangan yang sangat panjang. Kami saling mngenal satu sama lain. Dan disitulah kami sepakat untuk menjadi sahabat. Hanya angin dan hujan yang menjadi saksi bisu akan persahabatan kami. Hari hari aku jalani dengan keceriaan. Tanpa rasa sedih sedikitpun, karnaa larut dalam kesedihan juga gak baik buat kesehatanku. Dengan hadirnya sahabat-sahabat aku, aku merasa kembali kekehidupanku yang duluu. Merekalah orang yang selalu memperhaatikanku dan menyayangiku.
“HOREEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE , aku LULUUUUUUUUUUUUUUUUSSSS.. teriak siswa dan sisiwi SMP Miftahul Jannah Surabaya. Sangat heboh sekali hari itu. Mereka berjalan melewati sawah dan sungai berbondong-bondong. Berebeda dengan anak kota. Kami hanya berjalan kaki saat itu. Tapi kami bahagiaa dengan kelulusan ini. SMP kami menjadi lulusan yang terbaik dan terbanyak. Aku bahagia sekali melihat teman sekelasku berhasil dengan nilai yang memuaskan. Liburan panjang telah aku lalui , waktunya mencari SMA yang bener-bener baik dikota Surabaya ini. Aku dan dina berjalan kesana kemari mencari SMA yang terbaik. Tapi apalah daya, biaya membuat aku gagal untuk dapat duduk di SMA yang baik. Aku tak akan pernah bisa memaksa untuk sekolah ditempat itu. Akhirnya aku masuk ke SMA N budi utomo. Walau tak sebagus SMA N SURABAAYA yang aku impikan, tapi aku masih bangga bisa masuk ke SMA negri bersama dina, sahabatku.
Perjalananku dimulai dengan kesan yang baik di SMA. Aku masih menjadi yang tebaik dikelas, dengan nilai-nilai yang memuaskan. Saat itu ada pria yang menyukaiku. Aku tak pernah menggubrisnya. Tapi hari ke hari aku semakin risihi bila dia terus mendekatiku. Surat yang ia kirim hanya kubaca sekilas dan kubuang. Karena haal itu sangaat-sangat mengganggu konsentrasi belajarku. Mungkin saat itu aku menjadi manusia sombong di kelas. Aku tak perduli apa yang mereka katakan. Hanya saja aku masih ingat kata-kata mamaaku yang menantangku untuk bisa mendapat ngelar juara. Aku selalu buktikan dengan prestasi yang aku raih. Baik dibidang akademik maupun non akademik. Bisa aku lakukan dengan kerja keras yang begitu besar.
Desemeber akhir akan aku lalui. Perjalanan SMA , hanya bisa aku gambarkan lewaat sendu nada-nada indah sang pemusik. Symphony yang menyaatu dalam detik waktu ttak pernah angkuh dengan rasa pilu yang menggebu. Menggebu hasrat dijiwa yang akhirnya berubah menjadi poin utama untuk menggapai cita. Cita-cita yang selalu aku impikan. Memakai toga dikepala dengan gelarr sarjaana. Ya tuhan, ntah kapan semua itu terwujud. Usaha demi usaha selalu aku buat agar aku tetap bissa bersekolah. Karna selalu biaya yang menjaddi kendala semua itu. Kesederhanaan yang dimiliki keluargaku dan orgtuaku yang semakin hari smakin renta membuat aku sedikit ciutt untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Tak ada beasiwa yang kudapat. Tak ada satu bantuanpun. Hanya haarapan kosong yang aku dapat dari desaku. Padahal tak sedikit prestasi yang ku raih. Sungguh ironis.. ntah kapan dunia ini akan beruah menjadi lebih baik. Lihat saja, masih banyak anak-anak yang terlantar dan tak bersekolah. Dari 5000 mgkn hanya 3000 yang bersekolah. Tapi yang 2000nya hanya meminta-minta, mengamen, dan menjadi loper Koran. Sangat memprihatinkan.
Tak terasa umurku sudah menginjak 18 tahun. Aku sudah menjadi wanita yang akan menginjak masa-masa dewasa. Dimana masa yang semakin banyak maslah yang akan aku terima. Masa dimana cobaan akan semakin besar menghampiriku. Aku melanjutkan pendidikan ku di UNIVERSITAS SURABAYA. Aku mengambil jurusaan FKIP bahasa inggris. Walau awalnya orang tuaku cuek atas keinginanku, tapi aku tetaap melawannya dan yakin bisa menggapai gelar sarjana. Cita-citaku memang menjadi guru. Hanya waktu ibu masih ada, ia menginginkanku menjadi bidan. Aku tak bisa, karna aku kurang ahli dalam hal kesehatan. Mungkin tindakanku ini mengecewakannya. Tapi maafkan aku ibu, aku hanya bisa sampai seperti ini. Menjadi seperti ini saja aku sangat bersyukur sekali. Aku menangis seketika, mengingat akan semua cobaan yang aku dera daari kecil hingga sekarang, tak sangka aku bisa menjadi seperti ini. Semua yang aku lakukan bukan karna kerjaa keraasku saja. Tapi doa keluarga, teman , dan sanak saudara yang sangat berarti buat aku.
Semakin hari semakin baik saja prestasi yang aku dapat. Dari menyaanyi, mengaji dan lain sebaginya. Aku termasuk orang yang aktif dalam berorganisasi. Sekarang aku mengajar disalah satu TK swasta di Surabaya. Aku bahagia bisa  membagi ilmuku kepada orang banyak. Terutama anak-anak yang bbbelum mengerti apa-apa, menjadi mengerti, berkat aku dan ibu-ibu yang lain. Aku juga merasa dihargai oleh mereka. Betapa bahagianya aku bisa menjadi seperti ini. Betapa bangganya ibuku, melihat anak yang dulu tomboy, menjadi feminim dengan balutan jilbab dikepalanya, sesuai dengan apa yang diinginkannya selama ini. Aku merindukanmu ibu, sungguh aku merindukan sosok mu. Ntah kapan aku bisa menyentuhmu, bahkan membelai rambutmu. Sedangkan menciummu saja aku tak akan pernah bisa. Ya ALLAH , sesak dada aku bila rindu padanya. Tak bisakah kau mengizinkan aku bertemu dengannya walau hanya dalam mimpi ??? menciumnya, bahkan memeluknya hingga fajar tiba. Aku menginginkan itu ya ALLAH. Ingin sekaliii.. tapi ntah kapan itu akan terwujud ??????????????? beribu tanda Tanya besarr yang muncul diotakku. Apa aku ini sudah gilaa ? ayolahhh ,, bangkittt ? jangan hanya seperti ini. “ darii ujung kanan seperti ada yang membisikku. Mengiang ditelinga ku. Aku menjawab dalam hati..” aku ingin bangkit, tapi sosok ibuku tak pernah bisa aku lupakan. Terkadang aku juga sedih, apabila teman-temanku diprhatikan oleh ibunya. Kalau belum pulang kuliah, ditelfon sama ibunya..” lagi dimana kamu nak ??, dengan nada yang mesra. Sedangkan aku????????????? Tak pernah merasakan itu. Aku hanya mengusap air mataku ketika aku melihat dan mendengar itu. Begitu mereka mendapat perhatian yang lebih, kasih sayang yg lebih. Terus akuuuu .. aku tak pernah sedikitpun mendapatkan itu. APA ALLAH GAK ADIL SAMA AKU ??? terkadang aku berfikir buruk sepertii itu. Berfikir bahwa aku manusia bodoh dan miskin didunia ini.. aku tak membutuhkan kasih saying seorang bapak, maupun kakak, karna mereka tak mengerti aku. Saat ini aku hanya butuh ibu, ibu, dan ibu. Karna satu pelukan darinya, bagiku surga duniaaa  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar