Menuai Ilmu Sinden di Tanah
Jogja
Perjalanan saya menuju Desa Mungkid, tempat kelahiran orang tua saya, membuahkan hasil yang tak pernah terfikir di benak saya, yaitu bisa mempelajari
sinden yang terkenal di daerah Yogyakarta. Sinden
merupakan adat dari jawa, berupa
nyanyian lagu tradisional yang dibawakan oleh seorang wanita yang mengenakan
kebaya lengkap dengan selendang panjang atau dengan
iringan musik gamelan. Sedangkan nyinden adalah orang yang melakukannya.
Di ruangan yang tak begitu besar, dengan dilengkapi ranjang berbalut kayu jati, serta tabir jendela berwarna merah yang terurai saat tertiup angin. Suasana dingin mencucuk raga. Memaksa rasa enggan mengungkapkan apa-apa. Saya menatap jauh di seberang. Melihat ilalang tercurah embun mengelilingi jalan satu tapak tak jauh dari panca indra .Saya mememberanikan diri untuk beranjak dari ruang tempat saya beristirahat. Suasana desa yang benar-benar asri dengan hijaunya sawah yang membentang luas. Jarang sekali saya mendapatkan suasana yang seperti ini. Tempat ini bernama desa “Mungkid, Magelang” Jawa Tengah ”.
Desa ini terletak tak jauh dari kota Jogja. Kita bisa sampai dari Yogyakarta ke desa ini menggunakan sepeda motor sekitar satu jam setengah. Tetapi kita harus melewati bukit-bukit dan jalan-jalan yang terjal sekali. Tetapi saya sungguh takjub melihat keindahan desa ini. Sekeliling desa setiap berjalan, kita bisa melihat pohon salak dan sawah yang terhampar luas. Betapa sungguh kayanya Indonesia ini. Desa yang terpencil saja bisa menaklukan saya.
Purnama temaram mulai hilang di peraduan. Burung-burung mulai berkicauan memanggil surya untuk hadir di cakrawala Terlihat dari arah samping rumah tempat saya tinggal, wanita lansia berbondong-bondong berjalan menuju sawah untuk bekerja. Anak-anak mereka menggiring bebek dan kerbau. Tak ada yang bersantai-santai saat aktivitas telah dimulai. Semuanya bekerja dengan semangat mendapatkan penghasilan yang memuaskan. Saya senang melihat semua orang di desa ini. Mereka sangat gigih dalam bekerja. Bagi mereka waktu adalah uang. Waktu adalah nyawa yang bila kita sia-siakan, kita akan “mati” ( kelaparan ). Betapa sungguh pentingnya waktu bagi kehidupan.
Ketika senja mulai datang, suara merdu bebek dan kerbau mulai terrngiang di telinga saya. Suara canda wanita lansia mulai menggelitik saya untuk menikmati alunan sinden yang mereka nyanyikan saat pulang dari bekerja. Sungguh keunikan yang tak akan terlupakan di benak saya. Hati yang tadinya sendu menjadi tersenyum melihat tingkah wanita lansia di desa ini.
Purnama temaram berdetak di sudut mega. Gumam suara burung hantu menikam pendengaran. Saya masih terpikir akan wanita lansia yang bernyanyi merdu sekali senja tadi. Saya pun mendatangi salah seorang wanita lansia tersebut. Niat ini muncul karena saya ingin sekali belajar sinden.
Percakapan pun terjadi saat saya tiba di rumah mbah Pinem, panggilan sehari-hari mbah itu.”saya : permisi, assalamulaikum..”mbah : waalaikumsalam ndok, ono opo toh ? “saya : iniloh mbah, tadi saya denger mbah sinden pas pulang dari sawah, saya mau diajarin nyinden karo mbah, boleh toh mbah? “mbah : wahhh, boleh sekali ndokk, ayo masuk. Perbicangan panjang pun terjadi dan akhirnya saya belajar nyinden bersama mbah Pinem, karena keterbatasan waktu, saya hanya bisa belajar sedikit dari mbah Pinem. Tapi saya sangat bersyukur bisa mendapatkan pelajaran dari ini semua. Tak sia-sia saya berlibur ke desa kelahiran orang tua saya. Saya pun pulang ke rumah bude saya yang lumayan jauh. Saya ditemani oleh sepupu saya. Kami melewati sawah dengan bermodal senter. Suasana malam di sana sangat mencekam. Sepi sekali. Hanya suara jangkrik lah yang terdengar. Tak disangka dan tak diduga, perasaan saya yang tak enak dari awal pulang dari rumah mbah Pinem terjawab sudah. Hati yang bercampur senang dan rasa takut itu hilang saat saya terpleset di jalan satu tapak tersebut. Kaki saya masuk kedalam lumpur sawah dan baju saya kotor terkena lumpur. Rasa malu yang sangat mendalam masih saya rasakan. Hal itulah yang tak pernah bisa saya lupakan.
Jangan sombong dengan secuil ilmu, karena sikap sombong akan mempermalukan diri sendiri.
Di ruangan yang tak begitu besar, dengan dilengkapi ranjang berbalut kayu jati, serta tabir jendela berwarna merah yang terurai saat tertiup angin. Suasana dingin mencucuk raga. Memaksa rasa enggan mengungkapkan apa-apa. Saya menatap jauh di seberang. Melihat ilalang tercurah embun mengelilingi jalan satu tapak tak jauh dari panca indra .Saya mememberanikan diri untuk beranjak dari ruang tempat saya beristirahat. Suasana desa yang benar-benar asri dengan hijaunya sawah yang membentang luas. Jarang sekali saya mendapatkan suasana yang seperti ini. Tempat ini bernama desa “Mungkid, Magelang” Jawa Tengah ”.
Desa ini terletak tak jauh dari kota Jogja. Kita bisa sampai dari Yogyakarta ke desa ini menggunakan sepeda motor sekitar satu jam setengah. Tetapi kita harus melewati bukit-bukit dan jalan-jalan yang terjal sekali. Tetapi saya sungguh takjub melihat keindahan desa ini. Sekeliling desa setiap berjalan, kita bisa melihat pohon salak dan sawah yang terhampar luas. Betapa sungguh kayanya Indonesia ini. Desa yang terpencil saja bisa menaklukan saya.
Purnama temaram mulai hilang di peraduan. Burung-burung mulai berkicauan memanggil surya untuk hadir di cakrawala Terlihat dari arah samping rumah tempat saya tinggal, wanita lansia berbondong-bondong berjalan menuju sawah untuk bekerja. Anak-anak mereka menggiring bebek dan kerbau. Tak ada yang bersantai-santai saat aktivitas telah dimulai. Semuanya bekerja dengan semangat mendapatkan penghasilan yang memuaskan. Saya senang melihat semua orang di desa ini. Mereka sangat gigih dalam bekerja. Bagi mereka waktu adalah uang. Waktu adalah nyawa yang bila kita sia-siakan, kita akan “mati” ( kelaparan ). Betapa sungguh pentingnya waktu bagi kehidupan.
Ketika senja mulai datang, suara merdu bebek dan kerbau mulai terrngiang di telinga saya. Suara canda wanita lansia mulai menggelitik saya untuk menikmati alunan sinden yang mereka nyanyikan saat pulang dari bekerja. Sungguh keunikan yang tak akan terlupakan di benak saya. Hati yang tadinya sendu menjadi tersenyum melihat tingkah wanita lansia di desa ini.
Purnama temaram berdetak di sudut mega. Gumam suara burung hantu menikam pendengaran. Saya masih terpikir akan wanita lansia yang bernyanyi merdu sekali senja tadi. Saya pun mendatangi salah seorang wanita lansia tersebut. Niat ini muncul karena saya ingin sekali belajar sinden.
Percakapan pun terjadi saat saya tiba di rumah mbah Pinem, panggilan sehari-hari mbah itu.”saya : permisi, assalamulaikum..”mbah : waalaikumsalam ndok, ono opo toh ? “saya : iniloh mbah, tadi saya denger mbah sinden pas pulang dari sawah, saya mau diajarin nyinden karo mbah, boleh toh mbah? “mbah : wahhh, boleh sekali ndokk, ayo masuk. Perbicangan panjang pun terjadi dan akhirnya saya belajar nyinden bersama mbah Pinem, karena keterbatasan waktu, saya hanya bisa belajar sedikit dari mbah Pinem. Tapi saya sangat bersyukur bisa mendapatkan pelajaran dari ini semua. Tak sia-sia saya berlibur ke desa kelahiran orang tua saya. Saya pun pulang ke rumah bude saya yang lumayan jauh. Saya ditemani oleh sepupu saya. Kami melewati sawah dengan bermodal senter. Suasana malam di sana sangat mencekam. Sepi sekali. Hanya suara jangkrik lah yang terdengar. Tak disangka dan tak diduga, perasaan saya yang tak enak dari awal pulang dari rumah mbah Pinem terjawab sudah. Hati yang bercampur senang dan rasa takut itu hilang saat saya terpleset di jalan satu tapak tersebut. Kaki saya masuk kedalam lumpur sawah dan baju saya kotor terkena lumpur. Rasa malu yang sangat mendalam masih saya rasakan. Hal itulah yang tak pernah bisa saya lupakan.
Jangan sombong dengan secuil ilmu, karena sikap sombong akan mempermalukan diri sendiri.







0 komentar:
Posting Komentar