Namaku Rika
Damayanti, aku akrab dipanggil ika. Seperti itulah teman-teman sekolahku
memanggilku. Aku masih duduk dibangku kelas 5. Tepat tanggal 13 Desember nanti
umurku genap menjadi 10 tahun. Tak terasa waktu telah menggrogoti sisa umurku.
Aku anak kedua dari 2 bersaudara. Kakaku bernama Yani Damayanti. Aku dilahirkan
dari seorang perempuan cantik, tegar dan bersahaja. Dia ibuku, ibuku bernama
Aini Damayanti. Aku juga dibesarkan oleh seorang ayah yang kuat, serta pekerja
keras, hanya saja dia terlalu cuek dalam memperhatikan keadaan anak-anaknya,
ayahku bernama Deddy sutisna. Begitulah sekilas tentang aku dan keluargaku. Oh
ya , hampir lupa , ayahku bekerja sebagai buruh bangunan. Ibuku seorang ibu
rumah tangga. Kami adalah keluarga yang sederhana. Aku bahagia, dilahirkan
ditengah-tengah keluarga ini. Balik lagi tentang aku. Aku anak yang tomboy.
Temenku semuanya laki-laki. Yang perempuan bisa dihitung. Dari kecil, aku
memang tak pernah menyusahkan orang tuaku ( alhamdullilah). Orang tuaku juga
gak terlalu perduli terhadapku. Tapi karna aku cuek, so aku gak pernah berfikir yang terlalu negative
tentang mereka. Aku selalu berusaha meringankan beban mereka. Aku tak ingin
melihat kedua orang tuaku sedih, karna tingkah laku ku. Suatu hari, tepat
umurku genap 10 tahun, pas banget dihari ulangtahun aku, tidaak ada satupun
yang memberi ucapan, dorongan maupun motivasi. Aku merasa ssendiri saat itu.
Aku pun tak tau, mengapa selalu seperti itu. Apa ini takdirku ??? aku hanya
diam dan menangis. Karna aku memang belum bisa berfikir apa yang terjadi
padaku. Setaahun kemudian, aku naik ke kelas 6. Tepat dihari itu aku berusaha
semaksimal mungkin untuk mendapatkan rangking, dan akhirnya raportku lumayan
menggembirakan. Aku mendapat rangking 8, walau hanya 8, tapi aku bahagia bisa
membanggakan kedua orangtuaku. Sesampainya dirumah perbincangan terjadi, antara
aku dan ibu ..
“aku : adek
hebat kan maak, bisa dapet rangking 8 (dengan bangga aku lontarkan kata-kata
itu
“ibu :
baruu rangking 8, coba rangking 1,2,atau 3 ? bisa gakk (dengan nada menantang)
Aku : siapa
takuutt , adek bisa kok. Kalo adek bisa, mamak mau kasih apa smaa adek?
“ibu :
pokoknya yang adek minta, apapun itu, pasti mamak beliin (dengan meyakinkan
aku)
Aku : oke ,
akan adek buktikan. Lihat aja nanti.
Perbincangan
terhenti saat kakakku pulaang dari sekolah. Aku bergegas main bersama
teman-temanku. Kebiasaan setiap hari, aku bermain layangan, kelereng., bahkan
bola. Itulah keseharianku dirumah. Bila waktu magrib tiba, aku pulang dengan
baju kotor dan lusuh. Ibuku hanya tersenyum melihat tingkah anaknya yang tak
bisa dilarang.
Sepooiiiiii angin membawaku menuju
sekolah menegah pertama. Yaahhhh, aku bahagia bisa lulus dengan nilai yang
memuaskan di SD Miftahul Ulum Surabaya. Aku menyambung ke SMP Miftahul Jannah Surabaya.
Aku senang bisa duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama. Tak terasa sudah
semakin remaja. Apaa kelakuanku bisa seperti anak remaja ? ternyata tidak. Aku
masih sama seperti anak SD. Ntah bagaiman aku merubah ini. Setiap hari ibuku
hanya menasehati ku untuk berubah menjadi wanita kalem dan cantik, seperti
hal.nya teman-temanku.
Suatu
ketika, saat aku sedang makan didapur, aku tak sengaja mendengar percakapan
tante dan ibuku. Mereka sangat serius sekali memperbincangkan hal itu. Aku
menyelinap dari dapur menuju ruang tengah. Aku mendengar apa yang mereka
bicarakan. Tak sengaja, air mata membasahi kedua pipiku. Aku menangis, ketika
tau, bahwa ibuku mengidap penyakit kanker. Ya ALLAH, lindungi keluargaku dari
marabahaya dan penyakit, sembuhkan ibuku ya ALLAH. Doa yang tiada putusnya aaku
panjatkan, saat aku menghadap sang ilahi.
Kicau burung memekakkan telingaku. Air disungai
mengalir deras. Suasana pun cerah, tak ada satu orangpun yang berdiam diri
dirumah. Semua bekerja tanpa henti hingga senja datang menjemput malam. Aku
berlari melewati sawah yang hijau dan menyapa para petani disawah. Aku pulang dengan
riang gembira. Berkejar-kejaran bersama teman-teman. Setiba dirumah aku
terkejut, mendengar berita, bahwa ibuku dibawa kerumah sakit. Aku yang masih kecil
ini hanya menangis tak tertahankan melihat ibuku meraung kesakitan. Wajahnya
pucaat sekali, badannya semakin hari semakin kurus. sungguh , aku tak sanggup
melihat realita kehidupan ini. Begitu pahit cobaan yang keluargaku dera. Entah
apa alsannya, ibuku tak mau diporasi. Hanya pasrah yang ia lakukan setiap
harinya. Keluarga tak bisa memaksa kehendaknya.
Aku yang selalu setia mejaga ibu dirumah sakit.
Kuelus rambutnya, kuantar ia kekamar mandi, kumandikan ia, dan semua yang ia
butuhkan, selalu aku turuti. Saat ia tertidur, aku selalu memandanginya. Hanya
tangis sajalah yang bissa aaku lakukan saat itu. Aku takut sekali kehilangan
dia. Walau aku selalu dimarahi olehnya, tapi sungguh, aku sangat sayang
padanya.
Tak terasa setahun Sudah ibuku mendera penyakit kanker. Tak ada
laagi obat yang bisa menyembuhkannya. Kamipun pasrah dengan semua itu. Aku juga
sudah duduk dibangku kelas 2. Waktu itu, kakak aku duduk dibangku kelas 3 SMA.
Obat sana sini kami cari. Berapapun biayanyaa kami tak perduli. Kesembuhan ibulaah
yang kami harapkan. Sebulan kemudian, ibu pulang dari rumah sakit, kami tak
sanggup membayar biaya rumah sakit yang begitu besar. Kami hanya merwat ibu
dirumah. Selang beberapa hari ibu dirumah, ibu memintaku untuk membacakan yasin
dikepalanya.saat itu semua keluarga mememnuhi ruangan kamar tak begitu besar,
khusus untuk ibuku. Aku menangis tersedu sambil melantukan ayat-ayat suci
ditelinganya. Akulah orang pertama yang menyaksikan kepergian ibuku. Tak ada
pesan apapun dari dia. Dia hanya melambaikan tangannya kepada kami semua.
Haruuu menyelimuti ruangan itu. Aku serasa terbunuh, dadaku sesak. Tak bisa aku
bayangkan hal itu. Secepat itukah kau meninggalkan kami semuaa. Tangis dan
tangis yang aku lakukan. Aku merasa belum membahagiakannya. Masih banyak hutang
dan janji yang belum aku bayarkan kepadanya. Saat semua berkumpul dipemakaman,
aku sangat-sangat tak sanggup menyaksikan tubuh tegar, paras cantik, dan
bersahaja itu, dibalut dengan kain putih bersih dan harumm. Aku tak bisa
melihat wajahnya lagi, ketika ia sudah dibaringkan di liang lahat. Saat ia
ditelungkupkan dan dihadapkan kekiblat serta diazankan. Aku merasa semakin
jauhhh daan jaauhh. Aku merasa manusia paling miskin didunia ini. Karnaa aku
tak ,mempnyai ibu. Aku tak akan pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Yaaa
.. inilah cobaan yang paling berat selama hidupku. Ditinggalkan sosok ibu.
Hidup tanpa sosok ibu. Makan, nyuci pakaian, tidur, sarapan, pergi sekolah,
gosok pakaian, semua aku lakukan sendiri. Tanpa bantuan siapapun. Ayah dan kakaku,
hanya mengurus keperluan ku sehari-hari. Aku juga taak ingin merepotkannya. Aku
merasa aku sudah besar dan harus mengurus diri sendiri.
tunggu kelanjutannya yaaaa ...






0 komentar:
Posting Komentar