Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

BERITA OPINI, mohon koreksi


Calistung Merajai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu Pendidikan yang menekankan anak untuk bermain. Biasanya orang tua yang sibuk, akan menitipkan anak di PAUD atau Playgroup. semua ini dilakukan untuk meringankan pekerjaannya dan menginginkan anak untuk bisa belajar menulis dan membaca.
Sudah tidak asing lagi kalau berbicara tentang masalah Anak Usia Dini ini. Maraknya Calistung (Baca, tulis, hitung) dikalangan PAUD sudah tak bisa dipungkiri lagi. Hal ini dilakukan karena tuntutan yang sangat mendalam dari Sekolah Dasar yang mengharuskan anak bisa membaca dan menulis saat dites dan akan menduduki kursi kelas 1 SD.
Otak anak itu siap menerima hal-hal yang bersifat kognitif itu 7 sampai 8 tahun. Sebelum usia 7 sampai 8 tahun, mereka diwajibkan untuk tidak menyentuh belajar menulis dan membaca. Tugas mereka hanya bermain dan bermain. Kalaupun ingin belajar, guru bisa menyelipkan permainan dengan pengenalan huruf dan angka. Hal ini mungkin bisa membuat pertumbuhan anak semakin terarah dan tidak berliku-liku.
Tapi kenyataanya anak sudah diajarkan Calistung (Baca, tulis, hitung) di PAUD. Calistung itu dimulai dari TK, itupun dengan syarat umur diatas 5th, karena yang kita ketahui sendiri, banyak anak SD yang disyaratkan masuk pada umur 7 tahun bisa membaca dan menulis.
Ketika anak sudah bisa membaca dan menulis, selain mengganggu perkembangan mental di kemudian hari, guru SD juga tak akan memiliki peran apa-apa. Mereka hanya tinggal melanjutkan apa yang didapat anak dari Pendidikan anak yang terdahulu. Disini terlihat betapa tersiksanya mental anak yang dipaksa belajar belum mencapai kematangan untuk belajar.
Anak usia Balita (Bawah lima tahun) sebaiknya tak buru-buru diajarkan baca tulis hitung karena dapat menghambat pertumbuhan kecerdasan mental –“Mental Hectic” (Anak jadi pemberontak). Kemendiknas sedang gencar mensosialisasikan agar paud kembali ke fitrahnya. SK Mendiknas no.58/2009 (Di kutip dari artikel Calistung)
Dampak yang pertama dari hal yang dilakukan oleh pendidik/guru PAUD tentang pembelajaran yang bersifat kognitif adalah pada saat usia matang mereka lebih cendrung bertingkah seperti anak-anak, yaitu suka mengurung diri sendiri, sakit-sakitan karena ingin diperhatikan. Itu contoh kecil di dalam lingkungan keluarga kita.
Dampak yang kedua adalah anak meresa jenuh dengan kegiatan pembelajaran. Pasti ia berfikir, “apa hidup dia dituntut hanya untuk belajar?”. Terbesit pemikiran yang seperti ini. Bayangkan saja dari SD hingga Kuliah. Belum lagi yang melanjutkan S2. Saat ia besar kelak, ia akan semakin santai dan malas untuk belajar. Yang tadinya kita menginginkan anak kita memiliki perkembangan Psikologis dan Emosional yang baik, malah semakin memburuk dan berubah menjadi pemberontak.
Dampak yang ketiga yaitu kesalahan orang tua yang mengasuh dan para guru yang salah mendidik. Akibat dari kesalahan ini generasi-generasi yang sudah menduduki kursi paling tinggi. Contohnya saja, orang-orang sekarang lebih memiliki mental pegawai bukan mental pengusaha atau peneliti dan ahli. Mereka lebih memilih yang instan dan simple. Mereka tak ingin gagal dalam berkarier. Ya jadi mereka lebih memilih sebagai pegawai yang dapat gaji bulanan dan tunjangan yang begitu besar.
Solusi yang ditawarkan untuk menanggapi masalah-masalah di atas adalah tidak memarahi anak ketika dalam kondisi apapun, cukup menasehatinya saja, karena anak usia seperti ini, apabila diajarkan terlalu keras, ia akan mengalami pertumbuhan mental yang buruk. Tidak diperbolehkan belajar membaca dan menulis. Ajaklah mereka bermain, bernyanyi, berolahraga, bervantasi, berkebun, mengenal alam luas, membacakan dongeng, agar mereka bisa lebih mendapatkan pengalaman-pengalaman yang bisa mereka pelajari secara emosional.
Masalah pemerintah mengharuskan anak masuk SD 7 tahun itu, bukan suatu hal yang buruk. Justru ini dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di daerah pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Sehingga kita tidak menjadi Provinsi yang terbelakang dan Negara yang tertinggal.mengtest anak dalam uji tes masuk SD itu boleh saja, tapi tidak dengan membaca dan menulis, cukup dengan menyelipkan huruf dan angka kemudian mengeja. Anak dalam menangkap/IQ itu bukan suatu ukuran dari kesemua yang saya jabarkan, tapi keberanian anak dalam bergaul pasti akan mempengaruhi kecerdasaannya.

SLOGAN PAUD : BERMAIN DAN MENDAPAT PENGALAMAN BUKAN BERMAIN SAMBIL CALISTUNG



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar