Calistung Merajai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu Pendidikan yang
menekankan anak untuk bermain. Biasanya orang tua yang sibuk, akan menitipkan
anak di PAUD atau Playgroup. semua ini dilakukan untuk meringankan pekerjaannya dan menginginkan anak untuk bisa belajar menulis dan membaca.
Sudah tidak asing lagi kalau berbicara tentang masalah Anak Usia Dini ini. Maraknya Calistung (Baca, tulis, hitung) dikalangan PAUD sudah tak bisa dipungkiri lagi. Hal ini dilakukan karena tuntutan yang sangat mendalam dari Sekolah Dasar yang mengharuskan anak bisa membaca dan menulis saat dites dan akan menduduki kursi kelas 1 SD.
Sudah tidak asing lagi kalau berbicara tentang masalah Anak Usia Dini ini. Maraknya Calistung (Baca, tulis, hitung) dikalangan PAUD sudah tak bisa dipungkiri lagi. Hal ini dilakukan karena tuntutan yang sangat mendalam dari Sekolah Dasar yang mengharuskan anak bisa membaca dan menulis saat dites dan akan menduduki kursi kelas 1 SD.
Otak anak itu siap menerima hal-hal yang bersifat
kognitif itu 7 sampai 8 tahun. Sebelum usia 7 sampai 8 tahun, mereka diwajibkan
untuk tidak menyentuh belajar menulis dan membaca. Tugas mereka hanya bermain
dan bermain. Kalaupun ingin belajar, guru bisa menyelipkan permainan dengan
pengenalan huruf dan angka. Hal ini mungkin bisa membuat pertumbuhan anak
semakin terarah dan tidak berliku-liku.
Tapi kenyataanya anak sudah diajarkan Calistung (Baca,
tulis, hitung) di PAUD. Calistung itu dimulai dari TK, itupun dengan syarat
umur diatas 5th, karena yang kita ketahui sendiri, banyak anak SD
yang disyaratkan masuk pada umur 7 tahun bisa membaca dan menulis.
Ketika anak sudah bisa membaca dan menulis, selain
mengganggu perkembangan mental di kemudian hari, guru SD juga tak akan memiliki
peran apa-apa. Mereka hanya tinggal melanjutkan apa yang didapat anak dari
Pendidikan anak yang terdahulu. Disini terlihat betapa tersiksanya mental anak
yang dipaksa belajar belum mencapai kematangan untuk belajar.
Anak usia Balita (Bawah lima tahun) sebaiknya tak
buru-buru diajarkan baca tulis hitung karena dapat menghambat pertumbuhan
kecerdasan mental –“Mental Hectic” (Anak jadi pemberontak). Kemendiknas sedang
gencar mensosialisasikan agar paud kembali ke fitrahnya. SK Mendiknas
no.58/2009 (Di kutip dari artikel Calistung)
Dampak yang pertama dari hal yang dilakukan oleh
pendidik/guru PAUD tentang pembelajaran yang bersifat kognitif adalah pada saat
usia matang mereka lebih cendrung bertingkah seperti anak-anak, yaitu suka
mengurung diri sendiri, sakit-sakitan karena ingin diperhatikan. Itu contoh
kecil di dalam lingkungan keluarga kita.
Dampak yang kedua adalah anak meresa jenuh dengan
kegiatan pembelajaran. Pasti ia berfikir, “apa hidup dia dituntut hanya untuk
belajar?”. Terbesit pemikiran yang seperti ini. Bayangkan saja dari SD hingga
Kuliah. Belum lagi yang melanjutkan S2. Saat ia besar kelak, ia akan semakin
santai dan malas untuk belajar. Yang tadinya kita menginginkan anak kita
memiliki perkembangan Psikologis dan Emosional yang baik, malah semakin
memburuk dan berubah menjadi pemberontak.
Dampak yang ketiga yaitu kesalahan orang tua yang
mengasuh dan para guru yang salah mendidik. Akibat dari kesalahan ini
generasi-generasi yang sudah menduduki kursi paling tinggi. Contohnya saja,
orang-orang sekarang lebih memiliki mental pegawai bukan mental pengusaha atau
peneliti dan ahli. Mereka lebih memilih yang instan dan simple. Mereka tak
ingin gagal dalam berkarier. Ya jadi mereka lebih memilih sebagai pegawai yang
dapat gaji bulanan dan tunjangan yang begitu besar.
Solusi yang ditawarkan untuk menanggapi
masalah-masalah di atas adalah tidak memarahi anak ketika dalam kondisi apapun,
cukup menasehatinya saja, karena anak usia seperti ini, apabila diajarkan
terlalu keras, ia akan mengalami pertumbuhan mental yang buruk. Tidak
diperbolehkan belajar membaca dan menulis. Ajaklah mereka bermain, bernyanyi,
berolahraga, bervantasi, berkebun, mengenal alam luas, membacakan dongeng, agar
mereka bisa lebih mendapatkan pengalaman-pengalaman yang bisa mereka pelajari
secara emosional.
Masalah pemerintah mengharuskan anak masuk SD 7 tahun
itu, bukan suatu hal yang buruk. Justru ini dilakukan untuk meningkatkan mutu
pendidikan di daerah pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Sehingga
kita tidak menjadi Provinsi yang terbelakang dan Negara yang
tertinggal.mengtest anak dalam uji tes masuk SD itu boleh saja, tapi tidak
dengan membaca dan menulis, cukup dengan menyelipkan huruf dan angka kemudian
mengeja. Anak dalam menangkap/IQ itu bukan suatu ukuran dari kesemua yang saya
jabarkan, tapi keberanian anak dalam bergaul pasti akan mempengaruhi
kecerdasaannya.
SLOGAN PAUD : BERMAIN DAN MENDAPAT PENGALAMAN BUKAN
BERMAIN SAMBIL CALISTUNG






0 komentar:
Posting Komentar